Burnout Karir pada Usia 35, Apa Wajar?

Photo by Anthony Tran on Unsplash

Burnout Karir – Setelah bertahun-tahun bekerja, pekerjaan yang tadinya terasa menarik, menyenangkan, sampai-sampai dengan bangga kamu berkata “I Love My Job”, perlahan, mulai berubah.

Alih-alih bangga, kamu mulai merasakan yang namanya burnout karir.

Beberapa gejala burnout karir yang mungkin kamu rasakan adalah setiap capek pulang kerja yang muncul pertanyaan-pertanyaan ini:

“Apa capek ini sepadan ya?”

“Buat apa sih aku kerja sampai capek begini”

Bisa juga kamu mulai merasa tidak mendapat apresiasi yang cukup di tempat kerja,yang mengakibatkan kamu tidak merasa puas dengan pekerjaanmmu.   

Biasanya perubahan persepsi tentang pekerjaan yang dijalani muncul setelah kamu berusia 35 tahun ke atas. Wajarkah? Atau ini hanya capek kerja biasa?

Usia 35 Adalah Titik Dimana Burnout Karir Mulai Dirasakan

Menurut sebuah penelitian yang dirilis Bloomberg, usia 35 adalah titik dimana orang mulai tidak bahagia dengan pekerjaannya.

Penelitian ini dilakukan sebuah lembaga riset di UK. Hasilnya, satu dari enam responden mereka yang berusia di atas 35 merasa tidak bahagia. Jumlah ini dua kali lebih banyak dari responden berusia di bawah 35 tahun.

Mengapa Burnout Karir Dimulai di Usia 35?

Kalau kamu merasakan burnout karir saat berada di jenjang karir yang bagus, bisa jadi penyebabnya adalah tanggung jawab yang juga semakin berlimpah. Belum lagi, di usia ini kita cenderung sudah memainkan lebih banyak peran, seperti menjadi seorang ibu, ayah, dan pasangan.

Pertanyaan – pertanyaan seperti di atas mulai muncul akibat banyak kehilangan waktu dengan orang tersayang karena pekerjaan.

Kalau posisi idaman kamu belum kesampaian di usia 35 maka burnout karir bisa dialami karena kamu mulai merasa tidak dihargai. Perasaan stuck akan timbul, baik di tempat kerja atau karena sudah lebih sulit untuk melamar kerja di tempat lain.

Selain itu burnout karir juga bisa diperburuk dengan perasaan terisolasi, ketika generasi yang lebih muda mulai mendominasi kehidupan kantor.

Orang muda dengan profesionalitasnya terasa sebagai ancaman jika posisimu sudah di atas, dan akan terasa seperti saingan jika posisimu masih sama dengan mereka.

Apapun kondisi kamu, burnout karir bisa mengurangi motivasi bekerja dan bisa berdampak pada performa kerjamu.

Berita buruknya, bukan hanya performa kerjamu, namun juga hubunganmu dengan orang terdekat dan kesejahteraan diri kamu (well-being).

Cara Mengatasi Burnout Karir agar Hidup Lebih Bahagia

Menambah Teman di Kantor

Jalinlah hubungan dengan rekan kerja di luar konteks pekerjaan. Hangout sepulang kerja atau makan siang diluar bersama bisa jadi kesempatan untuk membangun relasi.

Menambah aktivitas positif di lingkungan kerja penting dilakukan untuk mengimbangi emosi buruk tentang pekerjaan yang sedang mendominasi.

Berbicara dengan Atasan

Jika kamu merasa stuck dengan karirmu, atau merasa overwhelmed dengan tanggung jawabmu,  ada baiknya berkonsultasi langsung dengan atasan. Dengan membuka jalur komunikasi, harapannya, atasan bisa memberi masukan yang bisa kamu olah sebagai solusi.

Mengikuti Passion dengan Aktivitas di Luar Pekerjaan

Kalau pekerjaan sudah mulai kehilangan daya pikatnya, maka salah satu solusi adalah kamu harus menemukan rasa ketertarikan lain di luar pekerjaan. Salurkan minat atau bakatmu dengan mengikuti komunitas yang sesuai passion.

Untuk kamu yang tinggal di kota besar ini pasti bukan masalah, komunitas-komunitas akhir pekan seperti ini bertebaran. Namun, buat kamu yang tinggal di kota kecil, butuh usaha lebih untuk menemukannya.

Bekonsultasi dengan Konsultan Karir

Kalau budgetmu memadai, berkonsultasilah dengan konsultan karir atau psikolog untuk membuat rencana karirmu. Bawa hasil pembicaraanmu dengan atasan sebagai bahan diskusi.

Ekplorasi juga kemungkinan-kemungkinan berpindah karir, jika di perusahaan yang sekarang sudah tidak memungkinkan lagi untuk meningkatkan karir.

Pindah pekerjaan juga bisa menjadi solusi kalau tanggung jawab di posisimu sekarang sudah overload.

Relaksasi

Sambil melakukan hal-hal di atas, relaksasi penting dilakukan setiap hari untuk menjaga emosimu tetap positif. Coba deh lakukan latihan mindfulness saat bangun pagi dan setelah pulang kerja.

Latihan fokus baik untuk menjaga diri agar tidak dikuasai emosi negatif yang akan atau sudah kamu alami selama bekerja.

Kesimpulan

Burnout karir pada usia 35 adalah wajar. Tanggung jawab yang lebih banyak dan pikiran bahwa apakah yang kamu capai sudah sepadan dengan lama karirmu adalah faktor penting yang mempengaruhi burnout karir.

Meskipun wajar, bukan berarti tidak harus diatasi. Kamu butuh perspektif berbeda dari orang lain untuk mengatasi burnout syndrome yang sedang kamu rasakan, karena itu ada atasan atau profesional  yang harus kamu ajak bicara.

Selain itu menjaga emosi positif juga tetap penting dilakukan agar kita bisa tetap berfungsi di kantor sebelum mengambil keputusan apapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: