Cara Melawan Revenge Porn Tanpa Harus Sembunyi

Melawan Revenge Porn
Photo by Noah Buscher on Unsplash

Revenge porn Mengutip dari Wikipedia, istilah revenge porn mengacu pada penyebaran konten seksual berupa foto atau video tanpa izin dari orang yang ada di konten tersebut. Penyebaran konten seksual dalam tindakan revenge porn bertujuan untuk memeras subjek yang ada di konten.

Yang umun terjadi, pelaku adalah mantan pasangan (biasanya laki-laki) dan melakukan pemerasan untuk memaksa subjek (biasanya perempuan) melanjutkan hubungan.

Clianta de Santo dalam tulisannya di Magdalene.co menguraikan bahwa sebenarnya istilah revenge porn sendiri sudah mendiskreditkan korban. Revenge yang dalam bahasa Indonesia berarti balas dendam mengesankan korban layak menerima perlakuan tersebut.

Porn yang merupakan kependekan dari pornography atau pornografi juga memberi kesan bahwa korban sengaja membuat konten dengan tujuan memberikan kenikmatan seksual pada audiens. Tentunya ini tidak sesuai dengan apa yang terjadi pada kasus revenge porn. Karena itu tindakan ini lebih tepat disebut kekerasan seksual berbasis gambar

Revenge porn bisa dikategorikan sebagai kekerasan seksual, salah satu bentuk kekerasan yang juga berdampak ke emosional. Mengapa? Karena pihak pelaku mengeksploitasi seksualitas pasangan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Wahai perempuan, ini adalah permainan kontrol yang kasar. Memang tidak menimbulkan memar, tapi coba lihat kondisi emosionalmu.

Namun, banyak perempuan yang tidak sadar sedang menjadi korban kekerasan dan merasa malu untuk melawan. Mengapa mesti malu? Kalian kan korban.

“Tapi kan saya sendiri yang mengambil gambar tersebut”

“Tapi kan gambar tersebut diambil atas izin saya”

Kamu makhluk seksual, kamu berhak bersenang-senang dengan seksualitasmu. Sedangkan tindakan pemerasan berada di luar konteks kesenangan seksualmu. Pemerasan (seharusnya) dilihat dari kacamata kriminalitas, bukan lagi kacamata susila.

Menanti Perlindungan Hukum untuk Korban Revenge Porn

Komnas Perempuan mencatat ada 19 kasus revenge porn yang terjadi di tahun 2017. Tapi ingat, ini hanya kasus yang tercatat ya.

Keengganan korban untuk melapor ke penegak hukum sebenarnya bisa dimengerti kalau mengingat belum adanya perlindungan hukum yang jelas di Indonesia untuk tindak kekerasan seksual jenis ini.

Sejauh ini Indonesia cuma punya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDTR). Ini menyulitkan, karena tindakan revenge porn kerap terjadi pada pasangan yang yang belum menikah.

Harapan satu-satunya ada di Pasal 45 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), atau Pasal 29 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi).

Pasal 45 UU ITE merupakan payung hukum untuk memidanakan orang yang mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang melanggar kesusilaan.

Sementara itu, Pasal 29 UU Pornografi adalah landasan hukum untuk menjerat tindakan memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi.

Kekurangan perlindungan hukum dari UU ITE adalah kasus revenge porn hanya dilihat dari konteks penyebaran konten seksual bukan dari sudut pandang kekerasan yang memakan korban.

Di sisi lain, RUU Pencegahan Kekerasan Seksual (PKS) yang menjadi titik cerah perlindungan hukum kasus kekerasan seksual berbasis gambar belum kunjung disahkan.

Walaupun tidak menyebut secara spesifik tentang tindak pidana kekerasan seksual berbasis gambar, tapi bagian “tindakan non-fisik” dan “mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau dipermalukan” cukup memenuhi kriteria untuk bentuk kekerasan jenis ini.

Dalam RUU PKS Pasal 12 (1) disebutkan pelecehan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf a adalah Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk tindakan fisik atau non-fisik kepada orang lain, yang berhubungan dengan bagian tubuh seseorang dan terkait hasrat seksual, sehingga mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau dipermalukan.

Bagaimana Cara Korban Revenge porn Melawan?

Walaupun belum mendapat perlindungan hukum yang sempurna, bukan berarti korban kekerasan seksual berbasis gambar harus bersembunyi.

Tunggal Pawestri seorang pembela hak-hak perempuan, mencuit di akun twitternya @tunggalp tentang langkah darurat yang bisa dilakukan ketika berhadapan dengan tindakan revenge porn:

  1. Gunakan fitur tangkapan layar untuk merekam ancaman pelaku. Ini penting sebagai bukti tindakan pemerasan yang dilakukan pelaku.
  2. Kirim pernyataan lewat email, chat, atau sms (pesan tertulis) yang menunjukkan kamu marah dan tidak bersedia gambar/videomu disebarluaskan
  3. Tetap Tenang. Tidak perlu malu, karena posisimu adalah korban.
  4. Hubungi kantor LBH terdekat. Akan lebih baik kalau di kotamu ada LBH APIK. LBH ini sudah berpengalaman menangani kasus serupa. Bahkan jika kondisi finansialmu tidak memungkinkan, mereka bersedia memberikan layanan gratis.
  5. Kalau memungkinkan, ceritakan kondisimu pada keluarga. Karena semarah-marahnya mereka, tetap saja mereka bisa membantu memberi perlindungan.

Kesimpulan

Walaupun perlindungan untuk kasus kekerasan seksual berbasis gambar masih dalam tahap rancangan (RUU PKS), namun bukan berarti korban harus diam tidak melawan.

Korban enggan melapor karena malu. Masalah malu ini bisa diatasi dengan menghubungi lembaga bantuan hukum yang bisa melihat kasus revenge porn dari sudut pandang kekerasan, bukan perilaku seksual.

Ini saatmu melawan, perempuan. Kalau bukan dimulai dari kamu, laki-laki tak akan pernah belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: