10 Kebiasaan Orang Sukses Ini Harus Masuk Daftar Resolusi 2020

Mengatur hari seproduktif mungkin adalah kunci.

Bedanya orang sukses dengan yang tidak (belum) sukses adalah orang sukses sudah punya tujuan jangka panjang, yang dicicil menjadi tujuan harian. Jadi kalau kamu bangun pagi, lalu hanya mengandalkan autopilot untuk menghabiskan harimu, berarti masih ada yang kurang dari usahamu menjadi orang sukses.

Orang sukses tidak menyia-nyiakan waktu mereka untuk mengonsumsi tren, atau menghibur diri (baca: marathon Netflix,nonton drakor, scroll media sosial, main game) secara berlebihan. Mereka memprioritaskan aktivitas yang mendukung rencana jangka panjangnya.

Apa rencana suksesmu tahun 2020?

Kalau kamu seperti saya, sedang merancang sukses 2020, coba 10 kebiasaan orang sukses ini. Melalui 10 kebiasaan ini, setiap hari jadi lebih terarah, hidup kita tidak dalam posisi autopilot lagi.

Bikin Bangun Pagi Jadi Kebiasaan

Walaupun tidak ada hubungannya dengan rejeki yang dipatok ayam, bangun pagi ada kaitannya  dengan produktifitas. Beberapa CEO dan publik figur ternama, bangun antara pukul 04.00-07.00.

Bangun lebih awal, mereka bisa memanfaatkan waktu untuk berolahraga, mengecek email, meditasi, bahkan mengajak jalan anjing. Pagi hari dianggap waktu yang tepat karena distraksi masih minimal, tidak ada telepon yang berdering atau jadwal meeting.  

Kalau kamu ingin meniru kesuksesan Oprah, Tim Cook, atau The Rock segera mulai kebiasaan bangun pagimu. Sebelum mulai, buat target dulu jam berapa kamu akan bangun, kemudian alokasikan 8 jam untuk tidur malam. Misalnya kamu berencana bangun pukul 05.30, maka kamu harus tidur malam pada pukul 21.30, atau selambat-lambatnya pukul 22.00.

Karena mengalaminya sendiri, saya tahu kalau tantangan bangun pagi bagi orang-orang yang aktif di malam hari adalah kesulitan untuk tidur tepat waktu. Saya sendiri melakukan cara ini agar bisa tidur tepat waktu :

Pertama, jauhkan gawai 2-3 jam sebelum jadwal tidur. Sinar biru dari layar ponsel dapat mengacaukan sistem sirkadian tubuh yang mengakibatkan susah tidur, (peringatan: kamu akan merasakan tarikan yang sangat kuat untuk mengecek ponsel selama mencoba tidur. Lawan!).

Kedua, jika sudah terbiasa tidur tengah malam (atau pagi) dan bangun siang, tetap paksakan diri bangun sesuai jadwal yang diinginkan (misal, pukul 05.30). Walaupun itu berarti kamu hanya tidur 4-5 jam saja, tapi cara ini efektif untuk memotong siklus tidur yang kacau. Kamu akan merasa mengantuk malam berikutnya dan bisa tidur tepat waktu.

Mulai kebiasaan baru ini di akhir minggu, agar tidak mempengaruhi kinerja. Selama proses adaptasi, sebaiknya kamu tidak mengendarai kendaraan, karena mengantuk bikin kosentrasi berkurang.

Kebiasaan Menulis Jurnal di Pagi Hari

Tulis Jurnal di pagi hari, sesaat setelah bangun pagi. 10 menit saja.

Pagi hari dinilai sebagai saat yang tepat untuk menulis jurnal, karena saat tidur, alam bawah sadar kita memproses rencana dan informasi yang sudah kita miliki sebelum tidur. Sebelum momen pencerahan hasil dari tidur terlewatkan, lebih baik kita tuliskan di jurnal.

Di jurnal pribadi bukan hanya uneg-uneg yang bisa kita tumpahkan, tapi juga target, tujuan, dan cita-cita. Dengan menuliskan rencana, satu langkah sudah tercapai. “Ide rencana” yang tadinya hanya ada di pikiran sudah berpindah ke dunia nyata dalam bentuk tulisan.

Tuliskan setiap kemajuan atau bahkan kemunduran terkait rencana tadi. Dari jurnal pribadi kita bisa melakukan refleksi dari proses merealisasikan rencana, kalau-kalau kita perlu mengubah arah atau membuat  Rencana B.

Yuk! Bangun Kebiasaan Berolahraga

Berolahraga dapat meningkatkan produktivitas. Sebuah penelitian yang dilakukan di 3 perusahaan berbeda dan melibatkan lebih dari 250 karyawan menyebutkan bahwa tingkat performa kerja berkorelasi positif dengan aktivitas olahraga yang dilakukan karyawan. Performa kerja yang meningkat dikaitkan dengan kondisi suasana hati positif setelah berolahraga. 

Gunakan prinsip “sedikit” untuk memulai kebiasaan baru.  Dalam jangka panjang, “sedikit” akan lebih menghasilkan konsistensi daripada langsung memaksakan hal besar.

Kalau sebelumnya gaya hidupmu benar-benar sedenter, alias lebih banyak duduk atau tidur-tiduran. Mulai kebiasaan berolahragamu dengan berjalan di treadmill. Kalau di rumah tidak ada treadmill, jalan pagi di sekitar rumahmu . 10 menit saja per hari.

Kalau kamu sudah rutin seminggu 2 atau 3 kali ke gym, kamu hanya perlu menambah frekuensi hari menjadi minimal 5 hari dalam seminggu. Untuk mengimbangi, kurangi durasi per harinya menjadi 20-30 menit saja. Ingat, prinsip “sedikit”.

Menurut hasil penelitian, butuh waktu 66 hari untuk membentuk kebiasaan baru. Agar rutinitas barumu terpantau kamu bisa gunakan aplikasi untuk mencatat jumlah hari yang sudah berhasil kamu taklukkan.

Saya ingin berbagi sedikit tentang pengalaman saya memulai kebiasaan rutin berolahraga. Walaupun dikatakan kebiasaan akan terbentuk setelah 66 hari, tapi dari pengalaman pribadi, saya sudah mulai terbiasa setelah 30 hari.

Setelah 30 hari, walaupun saya terpaksa harus absen berolahraga karena satu alasan, seperti bepergian (bukan males ya), saya bisa dengan mudah kembali ke kebiasaan esok harinya.

Saran dari saya jangan mudah menyerah, dan jangan perfeksionis. Tidak apa-apa bolong satu-dua hari, asalkan langsung mulai lagi.

Kebiasaan Bersyukur

Penelitian psikologi positif menyebutkan kalau rasa syukur berkorelasi positif dengan kebahagiaan. Lalu, riset yang meneliti kaitan antara kebahagiaan dan produktivitas menemukan bahwa perasaan bahagia meningkatkan produktivitas hingga 12%.

Orang yang bahagia akan memancarkan energi positif dan akan menarik hal-hal positif dari semesta, sesuai dengan “Law of Attraction”.  Hal positif bisa berbentuk macam-macam, kesempatan bisnis, promosi, lolos tes wawancara, apapun yang mendekatkan kamu pada tujuan.

Kesimpulannya, rasa syukur bekerja seperti bola salju yang menggelinding. Dengan rasa syukur kita merasa lebih bahagia. Dengan bahagia kita akan lebih semangat bekerja dan menarik hal-hal positif dari semesta.

Lalu bagaimana cara memulai kebiasaan bersyukur?

Sebelum tidur, kamu bisa tambahkan di jurnal harianmu rasa syukur atas nikmat yang kamu terima hari itu. Kejadian sesederhana hujan turun tepat saat kita sampai rumah perlu untuk disyukuri.

Meditasi, Kebiasaan Untuk Melatih Mindfulnes

Meditasi merupakan cara untuk berlatih mindfulness. Mindfulnes adalah sebuah proses mental untuk mengamati diri sendiri, tanpa menghakimi, serta membawa diri kita sepenunya “di sini dan sekarang”.

Pikiran kita fokus, tidak mengawang di kejadian yang bikin kesal kemarin atau jadi pusing mikirin apa yang akan terjadi minggu depan saat presentasi di kantor.

Dengan keterampilan untuk menarik raga dan pikiran ke momen “di sini dan sekarang”, alih-alih cemas, kita bisa fokus untuk melakukan sesuatu sekarang agar presentasi kita lancar minggu depan.

Merencanakan Target Esok Hari

Buatlah rencana, apa saja yang harus kita selesaikan besok, pada malam sebelumnya. Dengan membuat rencana malam sebelumnya, kita sudah membuat kerangka untuk esok hari.

Kamu pasti pernah mengalami satu hari dimana kamu merasa sibuk sekali dan capek, tapi setelah dipikir-pikir tidak ada perkerjaan yang benar-benar selesai. Nah, merencanakan target pada malam hari berguna untuk menghindari kasus seperti itu.

Pikirkan, atau tuliskan di jurnal kamu, 3-5 target yang harus kamu selesaikan besok. Begitu bangun pagi dan berangkat ke kantor, energi kamu akan langsung terfokus  untuk memenuhi target yang kamu buat semalam.

Kebiasaan Berjalan Kaki

CDC merekomendasikan untuk melakukan aktifitas fisik setidaknya 150 menit dalam seminggu. Kalau berjalan dalam 1 menit menghasilkan 100 langkah, maka kita butuh 15.000 langkah dalam seminggu, atau lebih dari 2000 langkah per hari.

Sebuah penelitian yang dilakukan dengan memantau pengguna aplikasi Argus di 46 negara selama 95 hari, menemukan bahwa rata-rata orang berjalan 4.961 langkah dalam sehari. Indonesia menduduki peringkat ke-20 dalam penelitian tersebut, dengan 3.513 langkah sehari.

Ada beberapa cara agar kamu bisa mencapai jumlah 5000 langkah dalam sehari:

  • Berolahraga dengan jalan pagi atau berjalan cepat di treadmill 10 menit seperti yang sudah disebutkan di atas
  • Parkir kendaraan jauh dari pintu kantor, atau pintu masuk mall.
  • Lebih baik lagi kalau kamu menggunakan transportasi umum. Naik kendaraan umum, menuntut lebih banyak jalan kaki daripada hanya naik-turun motor atau mobil pribadi.
  • Gunakan tangga saat di kantor, stasiun commuter line, atau stasiun MRT (ini lumayan melatih fisik)
  • Untuk jarak kurang atau sampai dengan 2 Km, tempuh dengan berjalan kaki. Kalau cuma ingin jajan di Indomaret atau beli makan malam di warteg dekat rumah, jalan kaki saja.
  • Window shopping di mall. Ini cara paling enak dan bisa dijadikan alternatif menambah jumlah langkah di akhir pekan.

Sama seperti berolahraga, kebiasaan berjalan kaki juga dapat membuat suasana hati menjadi positif dan meningkatkan performa kerja. Selain itu, berjalan kaki juga memberi kita waktu untuk sendiri dan berpikir.

Saya sering sengaja berjalan kaki kalau sedang stuck, tidak ada ide untuk rencana pembelajaran esok hari. Berjalan kaki ke Indomaret yang jaraknya tidak sampai 1 km, ide bisa langsung muncul di kepala saya, lebih efektif daripada saya duduk di depan laptop selama 1 jam.

Meningkatkan Spiritualitas

Dengan memiliki semangat spritualitas di keseharian, seseorang akan memberi makna lebih pada apa yang dikerjakan. Makna yang diberikan tidak sebatas nominal rupiah atau nilai angka lainnya. Tapi, nilai-nilai seperti kebajikan, kasih sayang, pengabdian,atau ibadah.

Melekatkan nilai-nilai spiritual pada aktivitas kita akan meningkatkan motivasi internal, motivas yang sumbernya dari dalam diri. Motivasi internal dinilai lebih efektif untuk meningkatkan kinerja dibandingkan motivasi eksternal seperti jumlah gaji atau promosi.  

Sebuah riset menunjukkan bahwa tingkat spiritualitas yang diukur dari frekuensi meditasi memiliki korelasi positif dengan performa kerja.

Walaupun demikian, meditasi bukan satu-satunya tolak ukur spiritualitas. Kamu yang religius, bisa meningkatkan spiritualitas dengan solat, ke gereja, atau sembahyang. Intinya, aktivitas yang mendekatkan diri pada “kekuatan yang lebih besar”.

Membatasi Kebiasaan Mengecek Media Sosial

Sebuah eksperimen tentang kebiasaan mengecek media sosial dilakukan dengan mahasiswa bisnis sebagai partisipan.

Partisipan diminta untuk menonton sebuah video menggunakan PC dengan membiarkan beberapa tab media sosial seperti twitter, Facebook, dan Linkedin terbuka. Setelah menonton video, mereka diberikan tes berkaitan dengan konten video. Eksperimen juga mengukur seberapa sering mereka membuka tab media sosial. Hasilnya, partisipan yang sering membuka tab media sosial memperoleh skor tes lebih rendah dibandingkan yang tidak membuka tab media sosial.

Kecuali bagi mereka yang memang bekerja untuk mengelola media sosial, dorongan untuk mengecek media sosial adalah distraksi bagi produktivitas. 

Seringkali, aktivitas mengecek medsos akan berlanjut ke menulis komentar, membalas pesan, atau membuat kita memikirkan lebih jauh apa yang kita lihat di media sosial. Jadi tidak produktif kan?

Media sosial juga punya kecenderungan untuk membuat kita melakukan perbandingan sosial. Setelah melihat gaya hidup orang lain, kita jadi sibuk membandingkan diri kita dengan mereka. Alih-alih produktif untuk meningkatkan kualitas diri, malah fokus mengasihani diri sendiri.

Untuk bisa tetap fokus pada tujuan kita, distraksi harus kita kelola. Salah satu cara mengelola distraksi medsos adalah dengan masuk ke medsos hanya dari PC, tanpa perlu memasang aplikasinya di ponsel.   Alokasikan waktu, misalnya 10 menit saja, untuk mengecek medsos dalam sehari.

Kebiasaan Membaca Buku

Untuk mulai kebiasaan membaca, lagi-lagi terapkan prinsip “sedikit”. Targetkan membaca 1 halaman saja per hari. Dengan target 1 halaman per hari, kita akan tetap membaca walaupun waktu yang kita punya sedikit, atau dalam keadaan lelah.

Menurut pengalaman pribadi, 1 halaman itu terasa sedikit saat kita sudah mulai membaca. Yang sulit memang memulainya. Biasanya setelah satu halaman, secara otomatis saya akan terus membalik halaman, sampai halaman ke-2, ke-3, dan seterusnya.

Membaca bermanfaat untuk melatih daya pikir kita. Menurut Profesor Neuropsikologi dari Rush University Medical Center, aktivitas seperti membaca dan menulis meningkatkan efisiensi kerja otak dengan cara mengubah struktur otak sedemikian rupa, sehingga tetap bisa berfungsi normal dan tidak terkena dampak penyakit saraf yang berhubungan dengan usia.

Membaca juga merupakan cara kita mengetahui isi pikiran orang lain. Buku seperti biografi, atau buku-buku nonfiksi lainnya bisa kita manfaatkan untuk memperoleh inspirasi dan perspektif berbeda. Semakin banyak sudut pandang yang kita baca, maka cara berpikir kita akan lebih fleksibel.

Photo by Biao Xie on Unsplash

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: